• Kontak Kami
  • Hotline : 087804065427
  • SMS : 08561154864
  • BBM : 5AA0CCF8

Kontak Kami

Selamat berbelanja, Shopper!

Selamat datang di web ww.ButikAini.com, toko online baju muslim anak modern dan elegan Dapatkan diskon menarik di www.ButikAini.com
Beranda » Artikel Terbaru » Bingkai Hubungan Suami Istri dalam Rumah Tangga

Bingkai Hubungan Suami Istri dalam Rumah Tangga

Diposting pada 20 November 2015 oleh nuren

Ustzh. EKO YULIARTI SIROJ, SAg

Kisah Teladan Hubungan Suami Istri

bingkai hubungan suami istri

Satu kisah mengagumkan diriwayatkan oleh seorang sahabiyat berhati mulia bernama Asma binti Abu Bakar Ra. Ia berkata :

“Aku menikah dengan Zubair saat dia tidak memiliki apapun selain seekor keledai yang menjadi tunggangannya. Setiap hari aku memberi makan dan minum keledai itu serta membersihkannya. Aku mencari air untuk keperluan keluarga dan aku menyiapkan minum untuknya. Akupun membuatkan roti dengan dibantu para wanita anshar karena aku tidak pandai membuat roti. Aku membawa biji gandum di atas kepalaku dan berjalan sepertiga farsakh menuju rumah para wanita anshar itu.

Suatu hari saat aku berjalan pulang dengan membawa biji gandum di atas kepalaku, tiba-tiba aku bertemu dengan Rasulullah SAW dan rombongan kaum anshar. Beliau mengajakku untuk pulang dengan menunggang unta yang berjalan di belakang unta beliau. Betapa senang hatiku dengan tawaran beliau karena lelahku akan segera berakhir. Namun saat aku ingat Zubair yang sangat pencemburu, aku urungkan niatku menerima tawaran Rasulullah. Beliau memahami kekhawatiranku dan berlalu didepanku dengan cepat.

Setibanya dirumah, aku ceritakan peristiwa itu kepada Zubair suamiku dan ia berkata : “Sungguh perjalananmu dengan membawa biji gandum di atas kepalamu lebih membuatku merasa berat dibandingkan dengan engkau menerima tawaran Rasulullah SAW.”

Dari Anas bin Malik ia berkisah, “Suatu saat Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam di tempat salah seorang istrinya dan istrinya yang lain mengirim sepiring makanan. Maka istrinya yang sedang bersamanya ini memukul tangan pembantu sehingga jatuhlah piring dan pecah sehingga makanan berhamburan. Lalu Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mengumpulkan pecahan piring tersebut dan mengumpulkan makanan yang tadinya di piring, dengan tersenyum beliau berkata, “Ibu kalian cemburu…”

Imam Tirmizi dalam kitabnya Asy-Syamail meriwayatkan bahwa Aisyah RA berkata : “Rasulullah SAW itu adalah seorang biasa, beliau menjahit sendiri bajunya, memerah sendiri susu dari kambingnya, dan melakukan sendiri perkara yang diingininya.”

Demikianlah Rasulullah SAW dan para sahabat mencontohkan bagaimana seharusnya suami dan istri memiliki komitmen yang dilandasi kesadaran akan misinya sebagai manusia untuk beribadah kepada Allah dan untuk memakmurkan bumi. Menyadari bahwa setiap langkah hidupnya bahkan setiap helaan nafasnya adalah ibadah kepada Allah SWT.

Dalam rumah tangga, hubungan suami istri adalah hubungan yang paling penting, Karena keduanya adalah subyek utama di dalam keluarga. Agar hubungan keduanya terjaga dalam keharmonisan, maka hubungan yang dijalin harus dilandasi oleh petunjuk Rasulullah SAW. Landasan dari hubungan suami istri adalah :

Hubungan Suami Istri Harus Dilandasi Saling Tolong Menolong (Ta’awun)

Berumah tangga adalah kebaikan. Dan Allah SWT memerintahkan kita untuk saling tolong menolong dalam kebaikan.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَ شَدِيدُ الْعِقَابِ ﴿المائدة: ٢﴾

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS Al-Maidah : 2)

Kalimat  تَعَاوَنُوا memiliki arti saling tolong menolong. Kata saling menunjukkan bahwa yang melakukan pekerjaan itu bukan hanya satu pihak akan tetapi dilakukan oleh kedua belah pihak.

Suami dan istri sama-sama melakukan dan memberikan pertolongan untuk pasangannya. Suami sebagai pencari nafkah, bekerja bukan semata untuk memenuhi kewajibannya. Ia menafkahi istri, anak-anak dan keluarganya dalam rangka menolong mereka agar berkehidupan layak dan mampu berdiri tegak menunaikan kebaikan-kebaikan yang banyak dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.

Terkadang istri harus ikut turun tangan memenuhi kebutuhan keluarga. Seperti yang dilakukan oleh Asma binti Abi Bakar dalam kisah di atas. Saat Zubair suaminya tidak mampu untuk menghadirkan seorang pembantu (khadimat) maka Asma melakukan seluruh pekerjaan rumahnya seorang diri. Bahkan ia rela menempuh perjalanan cukup jauh demi membuat roti yang merupakan makanan pokok di keluarganya.

Dalam hal ta’awun ini, beberapa catatan yang perlu menjadi perhatian kita adalah:

a. Tidak Mengurangi Hormat Pada Pasangan

Pekerjaan berat dan perjalanan jauh yang ditempuh Asma tidak membuat hormatnya kepada Zubair berkurang. Ia bahkan menjaga sekuat tenaga agar aktivitasnya selalu terjaga. Bahkan saat ia benar-benar membutuhkan bantuan dan bantuan itu benar-benar datang, ia mempertimbangkan perasaan suaminya yang tidak tahu akan peristiwa itu. Jika saja Asma mau, ia bisa ikut dalam rombongan Rasulullah SAW dan tidak perlu menceritakannya pada suaminya. Tapi rupanya tidak demikian akhlak seorang muslimah.

Asma menyadari bahwa aktivitas yang ia lakukan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga adalah bantuan/pertolongan yang ia berikan kepada suaminya agar kelak mereka bisa mempertanggung jawabkan kelangsungan rumah tangga itu di hadapan Allah SWT. Sebagai seorang istri yang turut lelah memenuhi kebutuhan rumah tangga, Asma tidak lantas bercerita kepada orang lain akan kekurangan suaminya. Dengan ikhlas putri Abu Bakar ini bekerja dalam ta’at.

Demikian juga seorang suami, kondisi yang sama juga perlu dipegang teguh oleh seorang suami. Suami harus menghormati istrinya.

Zaman yang semakin modern menuntut kaum perempuan untuk turut beraktivitas mencari finansial. Hal yang positif bila tetap berada dalam koridor syar’i. Dan Rasulullah SAW menegaskan bahwa harta istri yang dipakai untuk kepentingan keluarganya bernilai sedekah. Namun bukan berarti jika seorang istri tidak berpenghasilan membuat suami berhak untuk mengurangi rasa hormat pada istrinya. Ia tetap harus bersikap baik dan menghormati istrinya. Dan diantara menghormati istri adalah menjaga perasaannya.

Zaman di mana komunikasi antar manusia menjadi begitu mudah perlu kita waspadai. Karena bisa jadi maksiat/khalwat yang dilakukan oleh banyak orang tidak lagi membutuhkan tatap muka akan tetapi cukup di dunia maya. Cara-cara seperti itu tentu akan melukai perasaan pasangan. Oleh karenanya, ihsan (menyadari pengawasan Allah) harus terus dihidupkan dalam keseharian kita.

b. Tidak Perhitungan dengan Jasa Masing-masing

Seringkali saat terjadi konflik di keluarga, terutama jika terkait dengan hubungan suami istri, masing-masing tiba-tiba menjadi ingat akan semua kebaikan yang pernah dilakukan dirinya untuk pasangannya. Seringkali masing-masing mulai berhitung.

Istri berhitung bahwa suami tidak pernah turut serta dalam pendidikan anak, tidak pernah membantu pekerjaan-pekerjaan rumah, tidak pernah menyimpan handuk pada tempatnya seusai mandi dan lain sebagainya hingga masalah-masalah yang remeh.

Suami juga berhitung bahwa selama ini istri tidak menyediakan kebutuhan suami dengan optimal, kurang dalam mendidik anak, kurang dalam menata rumah, kurang pandai memasak, tidak membantu mencari income untuk keluarga dan lain-lain. Maka jadilah masing-masing berhitung akan jasanya.

Lantas…kita pun bertanya, apakah kita sedang mengelola keluarga atau mengelola perusahaan? Karena untung rugi hanya ada di perusahaan.  Karena di keluarga kita hanya mengenal ta’awun tanpa hitung-hitungan.

———————————————————————————

Dipersembahkan oleh grup WA – MANIS – MAJELIS IMAN ISLAM ?

– Twitter: @GrupMANIS

-Web : www.iman-islam.com

? Pendaftaran: Klik http://goo.gl/forms/Dx2XkQ0Jtb

? Sebarkan! Raih pahala…

Silahkan Berkomentar

Komen

Bagikan informasi tentang Bingkai Hubungan Suami Istri dalam Rumah Tangga kepada teman atau kerabat Anda.

Bingkai Hubungan Suami Istri dalam Rumah Tangga | Baju Muslim Anak Perempuan Branded Aini

Komentar dinonaktifkan: Bingkai Hubungan Suami Istri dalam Rumah Tangga

Maaf, form komentar dinonaktifkan.

Mungkin Anda tertarik produk berikut ini:
Rp 425.000
/ Bianca by Ayyanameena

Koleksi

SIDEBAR